PROJECT
Mata Kuliah : Kepemimpinan
“HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINANSITUASIONAL DI ORGANISASI IKBKK TERHADAP KINERJA TIM”
Dosen Pengampu :
Dr. Ayi Darmana, M.Si
Kelompok 6:
1. Ruth Yohana Saragih (4192510010)
2. Nadya Givani Sihotang (4193210009)
3. Depi Irnasari S (4193210015)
4. Cindy Agnesia (4193210018)
5. Riko Aronta Tarigan (4193210003)
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas projectmata kuliah kepemimpinan ini hingga selesai tepat padawaktunya. Di samping itu, ucapan terima kasih jugakepada Dosen Pengampu mata kuliah, Bapak Dr. AyiDarmana, M.Si yang telah bersedia membimbingpenulis sejauh ini.
Penulis telah menyusun Laporan Project ini sebaik-baiknya tetapi penulis menyadari mungkin masih adakekurangan-kekurangan dalam penyusunan laporan project ini. Oleh karena itu, penulis meminta maaf jikaada kesalahan dalam penulisan project ini. Penulisberharap mendapatkan saran maupun sumbanganpemikiran yang membangun guna kesempurnaanmakalah ini selanjutnya.
Akhir kata, penulis berharap semoga tugas iniberguna kedepannya dan dapat menjadi bahan rujukanbagi penulis dalam setiap penugasan di bidang projectdan menambah wawasan bagi kita semua, terima kasih.
Medan, 11 Oktober2019
Kelompok 6
1.1 Latar Belakang3
4.1 Grafik Hasil......................................................................................................................8
4.2 Pembahasan...................................................................................................................8
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan salah satu aspek terpenting dalam organisasi. Menurut Rauch, dan Behling kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut H.Koontz dan C.Donnel mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar ikut serta dalam mencapai tujuan umum. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan proses mempengaruhi dan mengajak orang lain untuk mencapai tujuan.
Berbicara tentang kepemimpinan, maka tidak bisa dilepaskan dari teori-teori kepemimpinan itu sendiri. Salah satu teori kepemimpinan yang baik adalah teori kepemimpinan situasional. Teori situasional ini merupakan pembawaan seorang pemimpin yang harus dimiliki tergantung pada situasi yang dihadapi. Ada banyak faktor yang mempengaruhi suatu gaya kepemimpinan situasional ini yaitu hubungan pemimpin dengan bawahan atau anggota, sejauh mana pimpinan diterima oleh anggotanya, sejauh mana pemimpin mendapatkan kepatuhan dari bawahannya dengan menggunakan kekuasaan, serta struktur tegas yang dimiliki oleh pemimpinnya.
Melalui penulisan Mini Riset ini, penulis ingin mewujudkan rekayasa ide pada waktu sebelumnya yaitu mengetahui gaya kepemimpinan situasional dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia (IKBKK) Universitas Negeri Medan terhadap kinerja timnya. Penulis ingin melihat gaya kepemimpinan yang dipakai oleh pemimpin organisasi, apakah sudah sesuai dengan gaya kepemimpinan situasional atau belum.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana gaya kepemimpinan yang dipakai dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia (IKBKK) Unimed?
2. Apakah gaya kepemimpinan situasional sudah diterapkan dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia (IKBKK) Unimed?
1.3 Tujuan
1. Memenuhi tugas project mata kuliah kepemimpinan.
2. Mengetahui gaya kepemimpinan yang dipakai dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia (IKBKK) Unimed
3. Mengetahui diterapkan atau tidaknya gaya kepemimpinan situasional dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia (IKBKK) Unimed.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Perkataan pemimpin/leader mempunyai macam-macam pengertian. Definisi mengenai pemimpin banyak sekali yaitu sebanyak pribadi yang meminati masalah pemimpin tersebut. Oleh karena itu gaya kepemimpinan merupakan dampak interaktif dari faktor individu/pribadi dengan faktor situasi.Teori Kepemimpinan Situasional dari Harsey dan Blanchard (dikutip oleh Miftah Thoha,(1996:64) mengemukakan bahwa : gaya kepemimpinan situasional didasarkan atas hubungan antara :
1. kadar bimbingan dan arahan (perilaku tugas) yang diberikan oleh pemimpinan.
2. tingkat dukungan emosional (perilaku hubungan) yang disediakan pemimpin.
3. tingkat kesiapan yang diperlihatkan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu.
Sedangkan pendapat (Paul Hersey dan Kennth Blonchard, (1996:193) adalah : “Suatu kemampuan dan kemauan dari orang-orang untuk bertanggung jawab dalam mengarahkan prilakunya sendiri, berhubungan dengan tugas-tugas spesifik yang harus dilakukannya”.Menurut Paul Hersey dan Blanchard (dikutip Miftah Thoha, (1996:64) gaya kepemimpinan situasional didasarkan pada saling berhubungan diantaranya hal-hal berikut ini:
1. Jumlah petunjuk dan pengarahan yang diberikan oleh pimpinan
2. Jumlah dukungan sosio-emosional yang diberikan oleh pemimpin
3. Tingkat kesiapan atau kematangan para pengikut yang ditunjukan dalam melaksanakan tugas khusus, fungsi atau tujuan tertentu
Konsepsi ini telah dikembangkan untuk membantu orang untuk menjalankan gaya kepemimpinan dengan tanpa memperhatikan perannya yang lebih efektif didalam interaksinya dengan orang lain. Konseptual melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dan tingkat kematangan para pengikutnya. Dengan demikian walaupun terdapat banyak variabel-variabel situasional yang penting lainnya misalnya : organisasi, tugas-tugas pekerjaan, pengawasan dan waktu kerja, akan tetapi penekanan dalam gaya kepemimpinan situasional ini hanyalah pada prilaku pemimpin dan bawahannya saja.
Perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting atau mengetahui gaya kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu, ia menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai pengikut secara kenyataannya dapat menentukan kekuatan pribadi apapun yang dipunyai pemimpin.
Perilaku tugas adalah suatu perilaku seorang pemimpin untuk mengatur dan merumuskan peranan-peranan dari anggota-anggota kelompok atau para pengikut, menerangkan kegiatan yang harus dikerjakan oleh masing-masing anggota, dan bagai mana tugas-tugas tersebut harus dicapai. Perilaku hubungan adalah perilaku seorang pemimpin yang ingin memelihara hubungan-hubungan antara pribadi di antara dirinya dengan anggota-anggota kelompok atau para pengikut dengan cara membuka lebar-lebar jalur komunikasi, mendelegasikan tanggung jawab, dan memberikan kesempatan pada bawahan untuk menggunakan potensinya.
Berdasarkan teori gaya kepemimpinan situasional dari beberapa ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan situasional adalah pola prilaku yang diperlihatkan seorang pemimpin pada saat memimpin pada saat mempengaruhi aktivitas orang lain baik sebagai individu maupun kelompok.
Kepemimpinan Situasional, yaitu gaya kepemimpinan yang mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi dan keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melakukan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. Kepemimpinan situasional menekankan bahwa keefektifan kepemimpinan seseorang bergantung pada pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat dalam menghadapi situasi tertentu dan tingkat kematangan jiwa bawahan.
Harsey dan Blanchard dalam Thoha (2012:71-73) mengembangkan gaya kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan jiwa bawahan dengan pola perilaku yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Ada 4 (empat) perilaku dasar kepemimpinan situasional, yaitu:
1. Perilaku Direktif
Perilaku direktif adalah perilaku yang diterapkan apabila pemimpin dihadapkan pada tugas yang rumit dan bawahan belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk mengerjakan tugas tersebut, atau pemimpin berada di bawah tekanan waktu penyelesaian, maka pemimpin akan menjelaskan apa yang perlu dikerjakan. Perilaku ini ditandai dengan komunikasi satu arah dan pembatasan peran bawahan. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata menjadi wewenang pemimpin, serta adanya pengawasan yang ketat oleh pemimpin.
2. Perilaku Konsultatif
Perilaku konsultatif adalah perilaku yang diterapkan ketika bawahan telah termotivasi dan berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Dalam hal ini pemimpin hanya perlu memberi penjelasan yang lebih terperinci dan membantu bawahan untuk mengerti dengan meluangkan waktu membangun hubungan yang baik dengan mereka. Pada perilaku ini pemimpin masih memberikan instruksi yang cukup besar serta penetapan keputusan-keputusan dilakukan oleh pemimpin, namun dengan adanya komunikasi dua arah dan memberikan dukungan terhadap bawahan serta mau mendengar keluhan dan perasaan mereka, keputusan yang diambil tetap ada pada pemimpin.
3. Perilaku Partisipatif
Perilaku partisipatif diterapkan apabila bawahan telah mengenal teknik-teknik yang dituntut dan telah mengembangkan hubungan yang dekat dengan pemimpin. Pemimpin meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dengan bawahan untuk lebih melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan. Pemimpin mendengarkan saran dan masukan dari bawahan mengenai peningkatan kerja. Keikutsertaan bawahan dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan berdasarkan pemimpin yang berpendapat bahwa bawahan juga memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup luas untuk menyelesaikan tugas.
4. Perilaku Delegatif
Perilaku delegatif diterapkan apabila bawahan sepenuhnya paham dan efisien dalam kinerja tugas, sehingga pemimpin dapat melepaskan mereka untuk menjalankan tugasnya sendiri.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu, 27 November 2019. Penelitian ini dilakukan di bundaran matematika saat anggota organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Unimed sedang berkumpul.
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan angket yang berisi 6 pertanyaan kepada anggota organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Unimed mengenai gaya kepemimpinan situasional di organisasi tersebut.
3.3 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan dengan cara meminta jawaban atas pernyataan yang ada kepada anggota Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Unimed. Adapun pernyataan-pernyataan yang diberikan menyangkut kepada gaya kepemimpinan situasional. Pilihan jawaban yang diberikan yaitu ada 3 sering, kadang-kadang atau tidak pernah.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Grafik Hasil
4.2 Pembahasan
Dari grafik di atas dapat dilihat bahwa pilihan jawaban”sering” memperoleh 87% suara, pilihan jawaban “kadang-kadang” memperoleh 13% suara, sedangkan pilihan jawaban “tidak pernah” memperoleh 0% suara.
Sehingga, dapat diketahui bahwa gaya kepemimpinan situasional sudah cukup baik diterapkan dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Universitas Negeri Medan. Dari jawaban dalam angket jawaban “kadang-kadang” paling banyak ditemukan dalam pernyataan “jika terdapat kesalahan,pemimpin menegur dengan memberikan pengertian kepada anggota” atau dalam pernyataan “pemimpin sering mengadakan pertemuan dengan anggota”. Artinya, dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Universitas Negeri Medan, mungkin pemimpin jarang menegur kesalahan anggota timnya atau mungkin pemimpin jarang mengadakan pertemuan dengan para anggotanya. Menerut gaya kepemimpinan situasional, sebaiknya pemimpin menegur kesalahan anggotanya dengan memberikan pengertian, selain itu sebaiknya pemimpin sering mengadakan pertemuan yang rutin dengan anggotanya.
Namun, secara garis besar, gaya kepemimpinan situasional sudah diterapkan dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Universitas Negeri Medan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Gaya kepemimpinan situasional sudah diterapkan dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Universitas Negeri Medan. Hal tersebut dikarenakan data yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan 87% jawaban “sering”, 13% jawaban “kadang-kadang” dan 0% jawaban ”tidak pernah”. Artinya lebih banyak yang menjawab sering. Hal tersebut menyatakan bahwa pemimpin organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Universitas Negeri Medan sudah sering menerpakan gaya-gaya kepemimpinan situasional dalam organisasi yang dipimpinnya.
5.2 Saran
Dari tugas project ini, penulis menyarankan agar gaya kepemimpinan situasional dapat lebih diterapkan lagi dalam organisasi Ikatan Keluarga Besar Kristen Kimia Universitas Negeri Medan, bahkan bukan hanya itu saja tetapi juga dapat diterapkan dalam organisasi-organisasi lainnya mulai dari lingkup yang paling kecil sampai lingkup yang paling besar.
DAFTAR PUSTAKA
Dermawan, P.,dkk. 2018. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Situasional Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Administrasi Bisnis. Vol 6 (2).
Kartono, Kartini. 2011. Pemimpin dan Kepemimpinan, Cetakan ke-18. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Mangkunegara. 2008. Manajemen Sumber Daya Perusahaan, Cetakan ke-8. Surakarta: Graha Ilmu.
Komentar
Posting Komentar